Data Maturity Handbook
Buka Hasil →

Bagaimana Skor Dihitung

Versi sederhana menjelaskan logikanya dengan bahasa awam dan contoh angka. Kalau butuh detail presisi (untuk implementasi/audit), buka Spesifikasi Teknis.

Intinya dalam satu kalimat: tiap level dianggap "tercapai" hanya kalau skornya di atas 70 dari 100, dan semua level di bawahnya juga sudah di atas 70 — seperti naik tangga, Anda tidak dianggap "sampai lantai 3" kalau lantai 1-nya masih ambruk, walau secara fisik Anda sudah berdiri di lantai 3.

1

Tiap pertanyaan (indikator) dijawab Ya atau Tidak — bukan angka

Konsultan menjawab tiap indikator berdasarkan bukti nyata, bukan klaim verbal — kalau ragu, dianggap "Tidak". Sebagian indikator dianggap lebih penting dari yang lain — ini disebut bobot (1-3) — sehingga saat digabung, indikator berbobot besar "mempengaruhi" hasil akhir lebih banyak daripada indikator berbobot kecil.

Tidak — belum ada bukti, atau baru sebagian/anekdotYa — bisa ditunjukkan konsisten dengan bukti nyata
2

Jawaban itu digabung jadi skor per Dimensi (0-100)

Tiap level punya 3 dimensi: Teknis, Organisasi, Strategi. Secara internal, Ya = 4 dan Tidak = 0. Skor dimensi = total nilai yang didapat dibagi total nilai maksimal yang mungkin (kalau semua indikator dijawab Ya), lalu dikali 100 — hasilnya pada dasarnya adalah persentase bobot yang sudah "Ya".

Contoh: 3 indikator dengan bobot [3, 2, 2], dijawab [Ya, Tidak, Ya]
= (4×3 + 0×2 + 4×2) / (4×3 + 4×2 + 4×2) × 100
= (12 + 0 + 8) / (12 + 8 + 8) × 100 = 71
3

3 skor Dimensi digabung jadi 1 skor Level

Skor level = rata-rata biasa dari skor Teknis, Organisasi, dan Strategi — sengaja disamakan bobotnya (bukan tertimbang) supaya satu dimensi yang kuat tidak bisa "menutupi" dimensi lain yang lemah.

4

Level dianggap "lolos" kalau skornya ≥ 70

Threshold 70 dipilih supaya level dianggap tercapai saat 70% dari bobot indikator penting di level itu sudah dijawab "Ya" — ada toleransi untuk beberapa indikator kecil yang masih "Tidak", tapi mayoritas yang penting harus sudah beres.

5

Level Aktual = level tertinggi yang lolos berurutan dari Level 0

Ini bagian yang paling sering bikin bingung, jadi lihat contoh angka (hipotetis) berikut:

LevelTeknisOrganisasiStrategiGabunganLolos?
L090858888Ya
L180758279Ya
L278457064Tidak
L360305548Tidak
L485406062Tidak
L520152520Tidak

Level 0 dan 1 lolos, tapi Level 2 gagal (Organisasi cuma 45). Walaupun Level 4 punya skor Teknis tinggi (85), itu tidak dihitung karena Level 2 di bawahnya sudah gagal duluan. Level Aktual = 1 — titik gate terakhir yang lolos berurutan dari 0.

6

Status "Rapuh" — tanda bahaya, bukan pencapaian

Kalau ada level di atas Level Aktual yang skornya ternyata juga lolos threshold (mis. Level 4 = 85 di dimensi Teknis pada contoh di atas), itu artinya perusahaan sudah pakai tools canggih di atas fondasi yang belum tuntas — pola kegagalan paling umum, dan wajib dilaporkan eksplisit ke klien sebagai "Rapuh di atas Level N".

7

Dua pemeriksaan tambahan

  • Ketimpangan Dimensi — kalau selisih dimensi terlemah vs terkuat > 20 poin (contoh di atas: Organisasi 45 vs Teknis 78 di Level 2, selisih 33), ditandai supaya perbaikan tidak keliru fokus ke dimensi yang sudah kuat.
  • Kesenjangan Persepsi — kalau klaim klien dan skor verifikasi konsultan berselisih ≥ 2 poin untuk indikator yang sama, itu temuan tersendiri yang layak dibahas ke stakeholder.
8

Prioritas perbaikan: bobot tinggi + skor rendah duluan

Dari indikator di Level Aktual dan level berikutnya, dihitung dampak = bobot × (4 − skor). Karena skor cuma 0 atau 4, ini sederhananya berarti: indikator berbobot besar yang masih dijawab "Tidak" otomatis naik ke atas daftar prioritas — bukan daftar template yang sama untuk semua klien.